• PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Full Day School, Mau Ditaruh di Mana Siswanya?

RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA , JAKARTA ? Wacana full day school yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy oleh banyak pihak dianggap mustahil dijalankan.

Infrastruktur pendidikan masih minim. Demikian halnya dengan sumber daya manusia pengajarnya.

Woro Siswanti, kepala SDN Grogol Utara 15 Jakarta Selatan, menyatakan bahwa model full day mustahil diterapkan di sekolahnya. Untuk diketahui, sekolah Woro adalah sekolah satu atap.

Itu adalah sekolah yang dalam satu gedung ada beberapa sekolah. Tidak dua, melainkan empat. Yaitu, SDN Grogol Utara 03, 04, 12, dan 15.

?SDN Grogol Utara 03 pasanganya SDN Grogol Utara 04,? kata Woro. ?Bila SDN Grogol Utara 03 masuk pagi, SDN Grogol Utara 04 siang. Itu juga berlaku pada SDN Grogol Utara 12 yang berpasangan dengan SDN Grogol Utara 15,? lanjutnya.

Bila model full day diterapkan, yang masuk siang akan terganggu. ?Mau ditaruh di mana siswanya. Kalau yang pagi aja udah ratusan dan petang juga ratusan, daya tampung sekolah tidak mencukupi,? ujarnya.

Karena itu, Woro berkeyakinan bahwa full day school hanya bisa diterapkan pada sekolah tunggal. ?Full day school lebih cocok diterapkan pada sekolah swasta karena kebanyakan orang tua murid sekolah swasta sibuk,? ucapnya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tidak kalah risau dengan rencana full day school. Ketua KPAI Asrorun Ni?am Sholeh meminta wacana tersebut dikaji kembali sebelum diimplementasiskan.

Asrorun menilai tidak masuk akal bila kebijakan itu, antara lain, mempertimbangkan kondisi orang tua yang sibuk bekerja.

Hal tersebut tidak bisa digeneralisasikan sehingga akhirnya harus mengubah jadwal aktivitas anak. Sebab, pada kenyataannya, tidak semua orang tua bekerja di luar rumah.

Selain itu, penerapan suatu program sejatinya harus diikuti perbaikan yang memadai. Tidak hanya dengan mengandangkan waktu anak di sekolah tanpa perbaikan sistem pendidikan, yang menjadikan lingkungan sekolah ramah anak. Bila tidak, kebijakan itu malah berpotensi menimbulkan kekerasan di lingkungan sekolah.

?Karena itu, kebijakan pendidikan, apalagi yang bersifat nasional, tidak bisa didasarkan pengalaman orang per orang. Tidak boleh hanya berdasar pengalaman pribadi. Selain itu, setiap anak memiliki kondisi berbeda-beda yang tidak bisa disamaratakan,? ujarnya di Jakarta kemarin (9/8).

Yang kedua berkaitan dengan interaksi sosial anak. Menurut dia, menghabiskan waktu dengan durasi panjang di sekolah bisa jadi malah mengganggu intensitas interaksi anak.

Bahkan, dikhawatirkan bisa berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak. Pasalnya, anak yang butuh interaksi dengan lingkungan rumah dan keluarga justru berada lebih lama di sekolah.

?Kondisi anak tidak bisa disamaratakan. Dalam kondisi tertentu, anak jangan lama-lama di sekolah. Seperti anak kelas I SD, harus segera pulang agar cepat berinteraksi dengan orang tua,? ujarnya. (wan/via/mia/lum/c10/ang)

Sumber : jpnn.com

rhd? – rifanfinancindo

Menteri Muhadjir: Baru Ide, Saya Sudah Dibully Habis-habisan?

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Penerapan full day school (FDS) atau sekolah seharian penuh baru sebatas ide. Namun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi tak menyangka, berita ini sudah bergulir begitu panas di masyarakat.

“Saya baru lontarkan ide saja, bagaimana bila siswa pulangnya jam 5 sore agar dia bisa mendapatkan pendidikan karakter lewat kegiatan-kegiatan yang menyenangkan sesuai program nawacita,” kata Menteri Muhadjir dalam konpres di Jakarta, Selasa (9/8).

Muhadjir kaget, reaksi masyarakat begitu besar, ?sehingga timbul penolakan. Padahal belum tentu ide itu dilaksanakan.

“Saya lempar ke masyarakat untuk melihat reaksi publik. Eh, ternyata saya dibully habis-habisan, tapi tidak apa-apalah,” ujarnya sambil tersenyum.

Muhadjir menegaskan, keputusan akhir ada di tangan Presiden Jokowi. Kalau ide ini ternyata tidak bisa dilaksanakan, masih ada pendekatan lain yang bisa dilakukan. (esy/jpnn)

Mendikbud: Full Day School Menyesatkan!

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi meminta masyarakat tidak menggunakan istilah full day school (FDS) lagi. Istilah itu dinilainya menyesatkan dan membuat resah masyarakat.

“Tolong jangan gunakan lagi? istilah FDS atau sekolah seharian penuh. Karena ini bisa membuat di pikiran orang siswa itu sekolah seharian penuh. Padahal tidak begitu,” kata Muhadjir dalam konpres di Jakarta, Selasa (9/8).

Dia menambahkan, pihaknya tidak ingin menggunakan istilah FDS dan lebih tepatnya kegiatan tambahan yang menyenangkan. Siswa ketika pulang sekolah, dilanjutkan dengan kegiatan bermain atau ekskul.

“Pokoknya siswa itu enak dan nyaman. Jadi bukan dipaksa belajar dari pagi sampai sore,” ujarnya. ?(esy/jpnn)

Deddy Corbuzier Anggap Lucu Wacana Full Day School # PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

PRESENTER Deddy Corbuzier mengkritik kebijakan full day school atau belajar sehari penuh di sekolah yang diwacanakan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy. Menurut dia, wacana tersebut lucu dan konyol.

“Mereka yang punya ide seperti itu stres. Orang tua stres kerja dari pagi sampai sore, jangan bikin anak-anak jadi stres juga dong,” kata Deddy usai bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Balai Kota, Jakarta, Selasa (9/8).

Deddy menyebut ada kebijakan lain yang bisa diterapkan bagi anak-anak. Bukan malah mengeluarkan wacana full day school.

“Kalau dia alasan bahwa anak-anak banyak yang pulang, orang tua belum pulang, makanya kadang-kadang jadi terlantar, ada yang namanya ekstakurikuler. Kalau orang tuanya belum pulang masukin ekskul, bukan full day school,” tutur Deddy.

Pria kelahiran Jakarta ini menyatakan, kebijakan full day school merupakan penyiksaan terhpadap anak-anak. Sebab, anak-anak mempunyai kegiatan selain belajar. “Anak-anak itu harus main, bersosialisasi,” ucap Deddy.

Saat ini, ada petisi menolak rencana Mendikbud menerapkan full day school. Deddy mengatakan, tanpa adanya petisi tersebut, ia tetap menolak rencana full day school.

“Kalau itu (full day school) sampai ada, anak gue, gue keluarin dari sekolah,” ungkap Deddy. (gil/jpnn)

Sumber : Liputan6.com

rhd? – rifanfinancindo