• PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Gaduh Roy Suryo di Sidang Jessica

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Jakarta Suasana persidangan kasus kopi sianida dengan terdakwa?[Jessica Kumala Wongso]( 2602722 “”) mendadak gaduh. Keributan terjadi saat seorang pengunjung yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah ahli dari kubu Jessica.

Otto Hasibuan, pengacara Jessica Wongso?pun berang dan mempertanyakan aksi Roy. Pengunjung lain pun menjadi gaduh dan menyoraki persidangan.

“Kenapa itu pengunjung tunjuk-tunjuk hakim? Jangan nunjuk-nunjuk dong,” tegur Otto dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 15 September 2016.

Suasana sidang pun mendadak riuh. Hampir saja terjadi baku hantam.

“Woi, lu keluar. Suruh keluar Pak Hakim,” teriak pengunjung sidang.

“Roy Suryo, duduk lu,” teriak pengunjung lainnya.

Dua polisi langsung mendekati Roy, dan beberapa polisi lainnya menenangkan pengunjung. Namun, Roy tetap berdiri mematung. Padahal, pengunjung terus meneriaki dia.

“Tenang-tenang,” ujar Ketua Majelis Hakim Kisworo, menenangkan situasi persidangan.

Beberapa saat setelah menunjuk hakim, Roy tersenyum dan memberi hormat kepada hakim. Dia meminta maaf karena membuat gaduh saat persidangan.

Roy kemudian menghampiri M Nuh yang telah selesai membereskan peralatannya. Anggota DPR itu merangkul M Nuh, seolah memberi dukungan moril, hingga keluar persidangan.

“Terus saja, saya tak rela ilmu pengetahuan dilecehkan. Anda sudah benar, Tuhan bersama Anda,” ujar Roy kepada M Nuh di luar ruang sidang.

Roy mengakui kesalahannya membuat keributan di ruang sidang. “Saya meminta maaf atas keributan tadi di dalam ruang sidang. Tapi, saat itu saya hanya ingin memberi support pada Pak Nuh.”

“Dia itu anggota Asosiasi Ahli Digital Forensik Indonesia. Saya juga tak rela ilmu pengetahuan dilecehkan,” dia menambahkan.

Sementara, M Nuh menegaskan, alat perangkat yang digunakan pihaknya sudah diakui dunia internasional.

Software yang kami pakai dipakai oleh interpol, diakui secara internasional. Kalau mau membandingkan itu harus apple to apple, harus singa dengan singa, jangan singa dengan kucing,” ujar Nuh dengan suara lantang di depan sorotan kamera.

Debat Panas

Kegaduhan ini terjadi sesaat setelah hakim memutuskan tak perlu lagi analisis dan mengomparasikan video rekaman CCTV, sebagaimana diharapkan Muhammad Nuh Al Azhar, ahli IT dari pihak jaksa.

M Nuh yang sebelumnya telah memberikan keterangan, sengaja datang memantau jalannya persidangan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin ini.

Kegaduhan juga mewarnai pada saat awal persidangan yang dimulai pukul 13.00 WIB. Perdebatan terjadi saat jaksa keberatan jika ahli informasi teknologi (IT) dari kubu Jessica, Doktor Rismon Hasiholan Sianipar, tidak memiliki kemampuan digital forensik.

“Kami sangat keberatan jika ahli IT menerangkan tentang tayangan CCTV. Untuk menayangkan CCTV itu seharusnya adalah ahli digital forensik,” kata seorang jaksa.

Perdebatan terjadi usai Rismon memperkenalkan diri untuk memaparkan keahliannya dalam persidangan. Dia memperkenalkan diri sebagai ahli IT dalam bidang analisis sinyal citra video. Berbagai predikat internasional juga telah ia peroleh.

“Saya ahli IT seputar penyembunyian data di dunia digital, khususnya video. Program doktoral saya juga berkaitan dengan penyandian data pada image dan video, baik data dua dimensi dan tiga dimensi,” ujar Rismon.

Situasi?sidang kembali memanas, saat jaksa kembali mempertanyakan standardisasi dan sertifikasi alat yang digunakan Rismon.

Bermula ketika Rismon hendak menayangkan rekaman CCTV yang pernah ditayangkan ahli digital forensik sebelumnya. Tayangan tersebut terdapat dalam USB (Universal Serial Bus) dan akan ditayangkan melalui laptop yang digunakan ahli.

“Apakah laptop yang digunakan sudah tersertifikasi? Apakah sesuai standar?” tanya seorang jaksa.

Jaksa beralasan hasil pengujian laboratorium forensik Puslabfor Polri, menggunakan perangkat keras dan lunak yang diakui standardisasinya.

“Karena memang hardware-nya harus terstandardisasi,” ujar jaksa.

Otto pun menegaskan, perangkat yang digunakan pihaknya terstandardisasi. Rismon sendiri berpendapat pihaknya ingin menganalisis alat bukti video dan hasil pemrosesan oleh ahli sebelumnya.

“Karena dalam persidangan banyak sekali yang tidak jelas. Di sini kami akan menganalisis lebih jelas frame per frame,” kata Rismon.

Namun, saat jaksa mendesak Rismon membuktikan standardisasi tersebut, dia tidak dapat menunjukkannya.

Usai debat panas, hakim ketua Kisworo yang memimpin jalannya sidang terpaksa menunda penayangan CCTV tersebut, sembari menunggu piranti yang digunakan ahli dari jaksa.

“Untuk menjaga keaslian, keutuhan supaya tidak berubah akan kita datangkan dulu dari digital forensik yang dihadirkan jaksa. Kalau itu akan ditayangkan ahli digital forensik penasihat hukum apabila terjadi penyimpangan dan sebagainya ada kontrolnya, demikian ketetapan majelis,” Kisworo memutuskan.

Sumber – liputan6.com

rhd – rifanfinancindo

Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.