• PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Perang Dagang AS-China Bikin Gemetar, BI Jadi Makin Longgar

PT Rifan – Jakarta, CNBC Indonesia – Perang dagang AS-China yang bikin gemetar menjadi alasan dibalik sikap Bank Indonesia (BI) yang makin longgar saja.

Pasca menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari yang dimulai kemarin (21/8/2019) dan berakhir hari ini (22/8/2019), BI memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps, menandai pemangkasan selama dua bulan beruntun.

“Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,5%,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung BI, Kamis (22/8/2019).

Perry menjelaskan bahwa ada tiga alasan utama dibalik pemangkasan tingkat suku bunga acuan yang dieksekusi pada hari ini, di mana salah satunya adalah risiko perlambatan ekonomi global yang bisa datang seiring dengan berlanjutnya perang dagang AS-China.

Dalam memaparkan hasil RDG pada pekan ini, berulang kali BI menyebut perang dagang antar dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia tersebut. Di awal konferensi pers, BI menyebut bahwa perang dagang AS-China telah menekan laju perekonomian dunia.

“Berlanjutnya trade war dan sejumlah risiko makin menekan volume perdagangan dunia. Perekonomian AS melambat akibat menurunnya ekspor dan investasi non residensial. Pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, China, dan India juga lebih rendah, dipengaruhi kinerja eksternal dan permintaan domestik,” papar Perry.

Begitu panasnya tensi perang dagang antara pemerintahan Presiden Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping tersebut membuat BI perlu menyesuaikan kebijakan suku bunga acuannya jika tak ingin Indonesia terseret ke dalam arus perlambatan ekonomi dunia.

“Dinamika ekonomi global perlu dipertimbangkan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik dan arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal,” lanjut Perry.

Bahkan, BI mengamini bahwa perang dagang AS-China bisa terus berlarut-larut dan memaksa The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS untuk bertindak lebih agresif dalam memangkas tingkat suku bunga acuan. Sebagai informasi, pada bulan lalu The Fed memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps, menandai pemangkasan pertama dalam 11 tahun.

“Kalau terjadi long trade war, kemungkinan pertumbuhan ekonomi AS turun dan kemungkinan bacaan kami, pasar perkirakan Federal Funds Rate (FFR) turun lagi setelah Juli, bisa dua kali dan tiga kali,” papar Perry.

Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk baru bagi produk impor asal China senilai US$ 250 miliar, sementara pihak China membalas dengan mengenakan bea masuk baru bagi produk impor asal AS senilai US$ 110 miliar.

Pada awal bulan ini, Trump mengumumkan bahwa AS akan mengenakan bea masuk baru senilai 10% bagi produk impor asal China senilai US$ 300 miliar yang hingga kini belum terdampak perang dagang. Kebijakan ini sejatinya akan mulai berlaku pada tanggal 1 September, sebelum kemudian AS sedikit melunak dengan menunda pengenaan bea masuk baru bagi beberapa produk hingga pertengahan Desember 2019.

Kala AS dan China selaku dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia terus saling balas mengenakan bea masuk, memang aktivitas konsumsi dan investasi akan terpengaruh yang pada akhirnya membuat aktivitas perdagangan dunia menjadi lesu.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(ank/ank)

Bookmark the permalink.

Comments are closed.