• PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
    • PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Freddy Budiman Dieksekusi, BNN Tetap Usut Aliran Dana Rp 3,6 T

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA Kejaksaan Agung telah mengeksekusi gembong narkoba Freddy Budiman di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Kematiannya menyisakan sejumlah kasus yang masih terpaut dengannya.

Salah satunya, aliran dana mencurigakan Rp 3,6 triliun ke rekening Freddy Budiman dan satu terpidana kasus narkotika lainnya. Badan Narkotika Nasional (BNN) menduga transaksi itu terkait dengan peredaran narkoba.

Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Irjen Arman Depari menegaskan penyidik terus menyelidiki kasus itu. Terutama, siapa saja yang terlibat dalam transaksi mencurigakan itu.

“Tidak berarti kasusnya mati atau selesai. Kita telusuri nama-nama lainnya,” tutur Arman di Kantor BNN, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (2/8/2016).

Sebagaimana lazimnya, BNN akan menindaklanjuti temuan tersebut dengan penyelidikan dan mengungkap asal-usul transaksi bernilai fantastis itu.

“Ada tersangka-tersangka lain dan kita kejar sisa-sisanya,” lanjut Arman.

Kasus tersebut ditengarai menggurita ke beberapa pihak. Namun, BNN masih enggan menyebutkan nama bandar narkoba selain?Freddy Budiman dalam kasus itu.

Duit Panas Milik Polisi Culas

Jalanan Harlem, New York, 1970-an menjadi arena persaingan narkotika. Bisnis haram ini berkembang pesat, terbukti dengan besarnya suplai narkoba di jalanan tersebut. Seorang bandar kulit hitam, Frank Lucas, memegang kendali di jalanan itu. Pasokan heroin dia dapatkan langsung dari Vietnam agar dapat bersaing di jalanan, baik harga pun kualitas.

Perjalanan Frank menjadi bandar tidaklah mulus. Rupanya dia harus berhadapan dengan Richie Roberts, seorang polisi jujur dan berdisiplin kuat. Meski demikian Richie memiliki sisi kelam, rumah tangganya retak, tidak secemerlang kariernya.

Richie penuh kesabaran dan ketekunan membongkar kejahatan narkotika kartel Frank Lucas dan keluarganya. Apa yang dilakukannya membuahkan hasil, yaitu adanya tali temali erat antara peredaran narkotika dengan korupsi yang ada di kepolisian wilayahnya saat itu.# rifanfinancindo

Bekerja dalam diam bersama tim pilihan yang dibentuknya, dia harus ekstra hati-hati bekerja. Jalan panjang dilalui, Richie berhasil menangkap Frank Lucas dan menjebloskannya ke penjara atas kejahatan narkotika.

Tidak berhenti di situ, Richie meminta Frank membuka satu per satu aparat culas yang menerima duit panas narkotika. Beberapa polisi nakal yang memakan duit narkoba juga diseret ke pengadilan.

Sepenggal cerita ‘American Gangster’ karya Ridley Scott menunjukan semangat pemberantasan narkotika yang tidak melulu mengenai seberapa besar hasil yang diungkap. Tapi, kemana fulus hasil transaksi narkotika mengalir. Bukan tidak mungkin, uang transaksi narkoba menjadi alat transaksional untuk membungkam aparat. # PT RIFAN FINANCINDO

Contohnya pengungkapan suap bandar narkoba terhadap Kepala Satuan Narkoba Polres Pelabuhan Belawan, Ajun Komisaris Ichwan Lubis (IL). Menjadi sebuah ironi di tengah perang narkoba, AKP IL malah menjalin ‘hubungan mesra’ dengan bandar.

“Hubungan masalah narkoba dan korupsi sebenarnya cukup dekat,” kata Komisaris Jenderal Anang Iskandar, 9 Desember 2014. Kala itu Anang menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

AKP IL tampaknya harus memendam dalam impiannya untuk menjadi perwira karier kepolisian.? BNN menjeratnya dengan sangkaan kejahatan pencucian uang dengan pidana pokok narkotika.

IL diduga menerima Rp 2,3 miliar dari seorang bandar agar kasusnya tidak bergulir di BNN.
Tanggal 21 April IL ditangkap Propam di kantor KP3 Belawan dan diserahkan ke penyidik BNN di kantor Polda Sumatera Utara, kemudian langsung dibawa ke BNN Jakarta tanggal 22 April dan langsung dilakukan penahanan.

Kronologi Kasus

Kasus pengungkapan tindak pidana pencucian uang (TPPU) ini diawali dengan penangkapan MR alias Achin, Jumat 1 April 2016 di Medan, dengan barang bukti 46.000 butir ekstasi, 20,5 kilogram sabu, dan 600 ribu happy 5,” Humas BNN menambahkan.

Diduga, narkoba itu berasal dari Togiman alias Toge, seorang narapidana Lapas Lubuk Pakam yang ditahan dalam kasus narkotika yang pernah ditangani Polrestabes Medan pada tahun 2011 dengan vonis 12 tahun penjara di Lubuk Pakam, Medan. Kini, Toge sudah ditahan di Kantor BNN, Jakarta.

Namun, sebelumnya Toge juga pernah ditangkap pada 2009. Saat itu ia terjerat kasus narkoba dengan barang bukti tujuh butir ekstasi oleh IL dan divonis 1 tahun penjara.

“Dalam kasus ini ditangkap juga JT (kakak Togiman) oleh penyidik BNN, Kamis 7 April 2016 di Medan, Sumatera Utara karena rekeningnya digunakan oleh Togiman,” sebut Humas BNN Komisaris Besar Slamet Pribadi.

Selain itu, ditangkap pula seorang berinisial TH alias Ahin yang mendapat perintah dari Togiman agar menghubungi AKP IL untuk membantu pengurusan kasus MR alias Achin dengan imbalan sejumlah uang. Uang sejumlah Rp 2,3 miliar tersebut diserahkan tersangka Ahin kepada IL antara 1-7 April 2016.

“Hasil koordinasi penyidik BNN dengan Propam Polda Sumut pada 21 April 2016 IL ditangkap Propam di Kantor KP3 Belawan dan diserahkan ke penyidik BNN di Kantor Polda Sumut yang kemudian langsung dibawa ke BNN Jakarta pada 22 April 2016 dan ditahan,” ujar Slamet.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka diancam Pasal 137 huruf b Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 5 ayat 1 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.